Categories
News

IPO, SAP Express Lepas Saham Hingga 60%

JAKARTA] PT Satria Antaran Prima (SAP Express) membidik dana hasil penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham sebesar Rp 132­156 miliar. Perseroan melepas sebanyak 600 juta (60%) saham dengan harga penawaran Rp 220­260 per saham. SAP Express menunjuk PT RHB Sekuritas Indonesia sebagai penjamin pelaksana emisi efek (lead underwriter). Sesuai rencana, masa penawaran awal (bookbuilding) berlangsung pada 30 Agustus hingga 10 September 2018. Sementara itu, masa penawaran umum pada 26­26 September 2018 dan pencatatan perdana (listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada akhir September atau awal Oktober 2018. Direktur Utama SAP Express Budiyanto Darmastono mengharapkan IPO bisa memperkuat struktur permodalan perusahaan untuk merespons prospek bisnis industri jasa pengiriman.

Hal ini merupakan imbas meningkatnya transaksi e-commerce yang melibatkan aktivitas pengiriman barang. Berdasarkan data Statista Digital Market Outlook, tahun ini penjualan e-commerce diperkirakan mencapai US$ 8,5 miliar. Sementara itu, pada 2022 diperkirakan tumbuh 18% atau mencapai US$ 16,4 miliar. Optimistis Budiyanto optimistis dengan teknologi yang dikembangkannya, sistem user interface SAP express dapat digunakan oleh semua platform e-commerce karena dapat diintegrasikan secara langsung melalui application programming interface (API). “Industri jasa pengirimman merupakan salah satu industri yang akan terus ada sepanjang masa. Memasuki tahun keempat kami mantap menjadikan perseroan sebagai perusahaan terbuka (go public),” kata Budiyanto di Jakarta, Selasa (4/9).

Dia menegaskan, sekitar 61,5% dari dana IPO akan digunakan untuk membayar pinjaman perusahaan, yakni obligasi konversi yang diterbitkan pada 2016. Perusahaan akan tetap melunasi pinjaman tersebut, meski jatuh tempo 2021. Adapun obligasi konversi tersebut dilakukan dengan GD Express Carrier Bhd (GDEX) senilai Rp 30 miliar atau setara 10 juta ringgit Malaysia. Namun, total pembayaran yang akan dilakukan sebesar Rp 67,2 miliar, yang terdiri atas Rp 30 miliar nilai obligasi konversi dan Rp 37,2 miliar premi penebusan. Sekitar 38,5% dana hasil IPO akan digunakan untuk modal kerja. Menurut Budiyanto, IPO dilakukan juga untuk mengejar momentum dari perkembangan e-commerce. [ID/M­6]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *