Categories
Parenting

Menjadi Orangtua Kompak

Menjadi orangtua kompak bagi anak yang besar di era digital, tentunya susah-sudah gampang. Kalau enggak sering-sering update pasti kita akan tertinggal jauh. Contohnya, yang baru-baru saja membuat heboh di media sosial adalah kabar narkoba bentuk baru, yaitu I Doser. Banyak dari kita merasa ngeri dibuatnya. Sebagian lagi mencari tahu aplikasinya. Namun, jarang yang mendapat kesempatan untuk mendengar penjelasannya langsung dari pakar kesehatan.

Baca juga : kerja di Jerman

Untuk itu, nakita bersama Tulip Cipta Kreasi pada 19 Maret lalu menggelar parenting class untuk membahas mengenai I Doser. Kelas yang bertempat di Gedung UMH Thamrin, Jakarta Pusat ini juga membahas topik lainnya, yaitu “Makanan yang Baik untuk Pertumbuhan Buah Hati”, “Mengenalkan Pendidikan Gender pada Anak Laki-laki dan Perempuan”, serta “Deteksi Dini Kelainan Tulang pada Balita”. TENTANG I DOSER Jadi, apakah benar I Doser bisa membuat ketergantungan seperti halnya narkoba? Dokter Gina Anindyajati sebagai pembicara pertama menjelaskan, “Musik apa pun, seperti musik klasik, dangdut, atau langgam Jawa, kalau didengarkan lama-lama dan khusyuk bisa memengaruhi suasana perasaan. Awalnya manggut-manggut, lama-lama tidur, deh.

Begitu pula musik I Doser yang sebetulnya merupakan jenis binaural beats. Musik selama 30-40 menit ini harus didengarkan dengan menggunakan head set supaya benar-benar fokus. Pada binaural beats, nada yang diperdengarkan di telinga kanan dan kiri sengaja dibedakan panjang gelombangnya. Misalnya, telinga kanan mendapat gelombang suara berkekuatan 100 Hertz, sedangkan telinga kiri 120 Hertz. Akibatnya, di otak terjadi pemrosesan selisih gelombang.

Nah, selisih 20 Hertz itulah yang menancap dan diproses di otak sehingga katanya bisa memengaruhi mental atau mood seseorang, menghilangkan rasa sakit, bahkan mengubah persepsi. Namun, apa, iya, sih benar begitu? Secara ilmiah aplikasi ini diciptakan hanya untuk mengubah suasana perasaan seseorang yang proses bekerjanya melalui gelombang di otak. Umumnya kita mengenal ada lima gelombang di otak yaitu delta, teta, alfa, beta, gama. Di I Doser, suara yang dihasilkan bisa dipilih agar otak menghasilkan gelombang-gelombang yang dikehendaki.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Categories
Parenting

Kenapa si Kecil Menangis Bag5

Kekurangan serotonin mencetuskan depresi dan perilaku agresif/ temperamental. Opioid sebagai zat penting menepis rasa takut dan stres, jika jumlahnya berkurang akan memicu perasaan negatif dan destruktif (bersifat destruktif: merusak, memusnahkan). Tak hanya itu, Ma. Saat bayi menangis lama, persarafan otonom di tubuhnya ikut bereaksi dengan banjirnya epinefrin yang mengaktifkan sistem simpatik.

Baca juga : Beasiswa S1 Jerman

Tubuh bayi menjadi ”garang” (dalam bahasa psikologi kedokteran dikenal istilah ”flight or fi ght”), ditandai dengan peningkatan denyut jantung, tekanan darah, kontraksi otot, laju napas lebih cepat, dan penurunan sampai hilangnya selera makan. Nah, jika hal ini berlangsung berlarut-larut, akan mengundang sejumlah gangguan fisik di kemudian hari, Ma. Semisal, masalah pernapasan, penyakit kardiovaskular, kesulitan tidur, gangguan makan dan pencernaan, serangan panik, kekakuan otot dan sakit kepala, bahkan bisa jadi chronic fatique syndrome (sindrom letih dan lesu kronis) yang menghambat produktivitas anak.

Dari penjelasan ini, dapat dipahami bahwa bukan tangisannya yang berdampak buruk pada anak, tetapi efek stres yang bertubitubi semasa bayi jika kita sering membiarkannya menangis berkepanjangan. Sebaliknya, kalau kita segera menanggapi tangisan bayi, selain dapat memenuhi keinginan/kebutuhan si kecil, kita pun dapat menciptakan kedekatan emosi atau bonding/ ikatan batin dengan bayi. Manfaatnya tidak hanya mendukung perkembangan mental si kecil, lo, Ma.

Pertumbuhan anak yang dinilai berkala dari kenaikan berat badan dan panjang/tinggi badan juga membutuhkan bonding yang memadai. Banyak kasus gagal tumbuh yang bersumber dari minimnya bonding orangtua dengan anak. Begitu pun performa kognitif atau kecerdasan (IQ) dan perilaku positif (EQ) juga akan terbentuk optimal dengan adanya bonding orangtua dan anak. Di masa depannya, hal ini menentukan kemandirian, kemampuan beradaptasi, kesuk sesan entrepreneurship, dan kesejahteraan sosial-fi nansial. Luar biasa pengaruhnya, ya, Ma! Oleh karena itu, yuk, kenali tangisan si buah hati dan segera tanggapi sesuai dengan kebutuhannya.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

 

Categories
Parenting

Bayi Sering Digendong, Jadi “Bau Tangan” Bag2

Secara Naluri Senang Menggendong. Sebagai psikolog sekaligus seorang ibu, Viera Adella, MPsi. mengakui pernah mendapatkan pertanyaan dan merasakan kebimbangan terhadap anggapan atau mitos bau tangan ini. Tetapi menurutnya, setiap mama secara naluriah memang lebih suka menggendong bayinya untuk mendapatkan kedekatan dan kelekatan. Bayi pun butuh digendong sebab kegiatan itu merupakan salah satu bentuk perhatian dan kepedulian kita terhadap si bayi. Disadari atau tidak, menggendong adalah perilaku melindungi yang tidak “kaku” dan terbatas.

Baca juga : Kursus Bahasa Jerman di Jakarta

Menggendong bisa menjadi kegiatan yang sangat kreatif dan bisa dimodifi kasi dalam berbagai bentuk, yang disesuaikan dengan tumbuh-kembang dan kematangan anak. Perlu dicatat, pada orang dewasa menggendong dijadikan simbol kasih sayang. Contoh saat pe ngantin baru menikah, maka sebagai wujud cinta si laki-laki akan menggendong si perempuan. Ini membuktikan bahwa menggendong pada dasarnya dinikmati dan dibutuhkan di sepanjang usia.

Budaya kita di timur pun melanggengkan perilaku menggendong ini dari waktu ke waktu. Perhatikan di daerah Jawa Tengah dan sekitarnya, bahkan ada jenis kain yang disebut “kain gendong”, karena dari motif dan ukurannya diciptakan khusus untuk “fi t” diikatkan pada tubuh si peng asuh/mama yang sedang menggendong bayi. Me nariknya, di kehidup an mo dern pun kita jumpai cukup ba nyak produk “alat gendong” yang praktis digunakan untuk membawa bayi ke manamana tetapi tetap terlihat keren.

Apa artinya? Ketika ada produk yang diciptakan secara masal untuk komunitas tertentu, dapat dipastikan ada kebutuhan yang besar akan produk tersebut. “Kasus yang pernah saya tangani biasanya terkait ibu-ibu yang mengeluh kecapekan menggendong si bayi atau bau tangan, sehingga dia pun kekurangan waktu untuk istirahat yang berakibat pada rasa cemas dan memburuknya mood karena merasa ‘gagal’ memberi perlakuan yang sempurna pada bayi. Sementara itu, si ibu pun sulit memercayakan orang lain untuk membantu atau menggantikan perannya karena ada rasa tidak percaya. Situasi seperti ini sering kali terjadi di sekitar 3 bulan pertama atau biasa dikenal dengan istilah baby blues,” cerita psikolog yang akrab disapa Della ini.