Categories
Parenting

Bayi Sering Digendong, Jadi “Bau Tangan” Bag2

Secara Naluri Senang Menggendong. Sebagai psikolog sekaligus seorang ibu, Viera Adella, MPsi. mengakui pernah mendapatkan pertanyaan dan merasakan kebimbangan terhadap anggapan atau mitos bau tangan ini. Tetapi menurutnya, setiap mama secara naluriah memang lebih suka menggendong bayinya untuk mendapatkan kedekatan dan kelekatan. Bayi pun butuh digendong sebab kegiatan itu merupakan salah satu bentuk perhatian dan kepedulian kita terhadap si bayi. Disadari atau tidak, menggendong adalah perilaku melindungi yang tidak “kaku” dan terbatas.

Baca juga : Kursus Bahasa Jerman di Jakarta

Menggendong bisa menjadi kegiatan yang sangat kreatif dan bisa dimodifi kasi dalam berbagai bentuk, yang disesuaikan dengan tumbuh-kembang dan kematangan anak. Perlu dicatat, pada orang dewasa menggendong dijadikan simbol kasih sayang. Contoh saat pe ngantin baru menikah, maka sebagai wujud cinta si laki-laki akan menggendong si perempuan. Ini membuktikan bahwa menggendong pada dasarnya dinikmati dan dibutuhkan di sepanjang usia.

Budaya kita di timur pun melanggengkan perilaku menggendong ini dari waktu ke waktu. Perhatikan di daerah Jawa Tengah dan sekitarnya, bahkan ada jenis kain yang disebut “kain gendong”, karena dari motif dan ukurannya diciptakan khusus untuk “fi t” diikatkan pada tubuh si peng asuh/mama yang sedang menggendong bayi. Me nariknya, di kehidup an mo dern pun kita jumpai cukup ba nyak produk “alat gendong” yang praktis digunakan untuk membawa bayi ke manamana tetapi tetap terlihat keren.

Apa artinya? Ketika ada produk yang diciptakan secara masal untuk komunitas tertentu, dapat dipastikan ada kebutuhan yang besar akan produk tersebut. “Kasus yang pernah saya tangani biasanya terkait ibu-ibu yang mengeluh kecapekan menggendong si bayi atau bau tangan, sehingga dia pun kekurangan waktu untuk istirahat yang berakibat pada rasa cemas dan memburuknya mood karena merasa ‘gagal’ memberi perlakuan yang sempurna pada bayi. Sementara itu, si ibu pun sulit memercayakan orang lain untuk membantu atau menggantikan perannya karena ada rasa tidak percaya. Situasi seperti ini sering kali terjadi di sekitar 3 bulan pertama atau biasa dikenal dengan istilah baby blues,” cerita psikolog yang akrab disapa Della ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *