Categories
Uncategorized

PASANG BADAN LOYALIS ERDOGAN

BUKAN tanpa alasan Binali Yıldırım mendapat julukan ”Geledek”. Selama menjabat Menteri Transportasi, ia dengan cekatan menukangi proyek-proyek mercusuar di Turki. Ia menggarap sistem kereta api cepat antara Ibu Kota Ankara dan Istanbul. Pembangunan terowongan kereta bawah laut Marmaray dikebut.

”Kami akan menuntaskan proyek ini dalam 47 bulan, 8 bulan lebih awal dari rencana,” katanya pada medio Mei lalu. Tak berhenti di situ, Yıldırım, 60 tahun, juga menggagas proyek jembatan gantung terlebar di dunia bernama Yavuz Sultan Selim. Ia bahkan baru-baru ini meneken kontrak ”bandar udara ketiga” Istanbul, lapangan udara yang belum dinamai tapi bakal menjadi yang terbesar sejagat. ”Yıldırım mendapat julukan ’Geledek’ karena reputasinya mempercepat segala urusan,” begitu pemberitaan Huffington Post mengenai Yıldırım. Yıldırım kini bukan lagi Menteri Transportasi, jabatan yang disandangnya selama 14 tahun.

Ia telah merengkuh tampuk yang lebih tinggi: perdana menteri. Lewat partai berkuasa, Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), Presiden Recep Tayyip Erdogan ”meminang” Yıldırım. Ia ditunjuk menjadi ketua umum sekaligus kepala pemerintahan dalam kongres nasional luar biasa AKP pada 22 Mei lalu di Ankara. Di depan 1.405 kader AKP, Yıldırım menyerukan perubahan konstitusi Turki untuk memberi wewenang lebih luas kepada Erdogan.

”Apakah Anda siap mengusung sistem presidensial?” ujarnya, yang disambut sorak-sorai peserta kongres. Dua hari kemudian, Yıldırım menekankan misinya saat berpidato di parlemen. ”Semua perubahan yang mengarah pada pembentukan sistem presidensial, termasuk konstitusi baru, akan menjadi prioritas kami.” l l l ERDOGAN mengenal Yıldırım sejak ia menjabat Wali Kota Istanbul selama 1994- 1998. Saat itu Yıldırım, sarjana ilmu kelautan dan ahli perakitan kapal, menjadi kepala perusahaan feri berkecepatan tinggi di Istanbul.

”Dia dikenal humoris. Tapi dia juga politikus pragmatis yang memiliki reputasi sebagai penggalang dukungan dan pemecah masalah,” kata Hakan Yilmaz, pakar ilmu politik dari Bogazici University di Istanbul. Kedekatan dengan Yıldırım berlanjut saat Erdogan, bersama Abdullah Gul, mendirikan AKP. Partai konservatif Islam ini dibentuk pada 14 Agustus 2001.

Selama membesarkan AKP, ”Erdogan mengajak banyak kenalan baiknya dari Istanbul ke Ankara. Yıldırım adalah salah satu dari mereka,” ujar Yilmaz, seperti diberitakan France 24. Hanya perlu satu tahun bagi AKP untuk menang telak dalam pemilihan legislator dan menjadi partai berkuasa. Dari kemenangan itu, Erdogan melenggang menjadi perdana menteri.

Ia lantas menunjuk Yıldırım sebagai Menteri Transportasi (2002- 2011), berlanjut memimpin Kementerian Transportasi, Komunikasi, dan Kelautan (2011-2016). ”Pada 2014, ia dipercaya Erdogan sebagai penasihat senior kepresidenan,” tulis RIA Novosti.

Website : kota-bunga.net

Categories
News

Pemerintah Tidak Menerima Argumen Ini

Di parlemen, Partai Likud yang dia pimpin hanya menguasai 30 kursi; dia bisa memerintah setelah pada saat-saat terakhir berhasil menjalin koalisi dengan empat partai lain, yang hanya memberinya mayoritas tipis, 61 dari 120 kursi parlemen. Pengukuhan posisi itu penting mengingat di Israel pemerintah yang mana pun bisa sewaktu-waktu jatuh melalui pengajuan mosi tidak percaya di parlemen.

Netanyahu sadar para pendukungnya Jewish Home, United Torah Judaism, Kulanu, dan Shas tak bisa dia andalkan sepenuhnya. Dalam hal itu, dia sudah melalui ujian berat pada Maret lalu, ketika partai-partai ultra-Ortodoks dalam koalisinya mengancam menarik dukungan sebagai respons terhadap usul pemerintah untuk mewujudkan tempat berdoa bagi kaum non Ortodoks di Tembok Barat.

Mereka telah menyatakan akan keluar dari koalisi kalau pemerintah memberikan pengakuan lebih jauh kepada kaum Yahudi konservatif dan reformis. Kelompok-kelompok ini, menurut Shlomo Amar, Kepala Rabi Yerusalem, ”Secara arogan merobohkan dan menghancurkan semua hal yang sakral dari Israel”. Namun Netanyahu sebenarnya punya motif lain. Menurut laporan Foreign Policy, dia juga risau karena dianggap lembek menghadapi apa yang dikategorikan sebagai serangan terorisme belakangan ini.

Kekhawatiran itu ada dasarnya. Di kalangan pendukung utamanya, selama ini ada keyakinan bahwa Netanyahu adalah ”Tuan Keamanan”. Mereka percaya kepadanya. Karena itu, isyarat ketakberdayaan yang berupa apa pun, di tengah-tengah ancaman kekerasan yang meningkat, bisa dianggap sebagai masalah politik. Netanyahu melihat sikap Moshe Yaalon, Menteri Pertahanan terdahulu, dan para petinggi tentara, sebagai asal-muasal tanda ketakberdayaan pada dirinya.

Sikap Yaalon dan sejumlah petinggi militer itu berkaitan, khususnya, dengan kasus dibunuhnya Abdel Fattah al-Sharif, pemuda Palestina, oleh serdadu Israel bernama Sersan Elor Azaria pada Maret lalu. AlSharif ketika itu terlibat sebuah serangan penikaman di Hebron, yang melukai seorang serdadu Israel. Dia terluka dan dalam keadaan tak berdaya tergolek di tanah ketika Azaria merangsek dan menembak kepalanya dari jarak dekat.

Insiden itu membelah publik dan pejabat Israel. Yaalon tergolong di antara mereka yang mengecam tindakan Azaria. Menurut mantan Kepala Staf IDF ini, siapa saja yang mendukung Azaria sesungguhnya ”sedang merusak nilai-nilai IDF”. Para petinggi IDF juga memilih tak semakin memanaskan situasi; mereka memerintahkan tentara hanya menembak jika nyawanya benar-benar terancam.

Netanyahu melihat pernyataan semacam itu bisa dianggap, khususnya oleh para pemilih Partai Likud dari kelompok sayap kanan, sebagai persetujuan terhadap aksi ”terorisme”. Dia membayangkan kemungkinan kedudukannya sebagai perdana menteri bakal terancam—karena keinginannya untuk kembali mencalonkan diri pada pemilu berikutnya bisa terganjal. Merasa bakal bisa mengendalikan ancaman dari dalam, dia memilih jalan keluar yang merupakan perwujudan dari prinsip ”menjaga kedekatan dengan teman dan menjadikan musuh lebih dekat”.

Bergabungnya Yisrael Beytenu serta-merta menambah jumlah kursi koalisi yang dipimpin Partai Likud menjadi 66. Dalam pengumumannya, Netanyahu mengatakan pemerintahan yang lebih stabil, dengan lebih banyak partai yang terlibat, ”akan membuat mudah” upaya mewujudkan perdamaian dengan Palestina, peluang yang menurut dia tersedia. Melihat apa yang telah terjadi sepanjang dia menjadi perdana menteri, dan reputasi ”kawan seiringnya” yang baru, tak berlebihan sebenarnya bila ada yang ragu atau malah dengan putus asa memilih mengubur harapan.

Alih-alih menjanjikan, yang tampak dari manuvernya justru sebuah kontradiksi. Di tengah-tengah kecenderungan kian tak lakunya gagasan tentang perdamaian, juga semakin rasisnya masyarakat Israel dalam melihat Palestina dan kaum Arab pada umumnya, sulit bisa dipercaya bakal ada tujuan lain bagi politik Israel. Dengan menempatkan IDF dan urusan pendudukan di bawah Lieberman, justru perang yang bisa sewaktu-waktu pecah.